February 9, 2026

Perubahan iklim merupakan fenomena global yang memiliki dampak signifikan terhadap keanekaragaman hayati. Kenaikan suhu global, perubahan pola curah hujan, dan peningkatan frekuensi bencana alam menjadi ancaman bagi berbagai spesies di seluruh dunia. Dampak ini tidak hanya terjadi di lingkungan alami, tetapi juga mempengaruhi ekosistem terestrial dan akuatik, sehingga menggeser keseimbangan kehidupan di bumi.

Suhu yang semakin tinggi mengakibatkan habitat spesies menjadi tidak layak. Misalnya, banyak spesies penunjang ekosistem, seperti koral, sangat rentan terhadap pemanasan lautan. Fenomena pemutihan karang telah melanda lautan di seluruh dunia, mengurangi populasi ikan yang bergantung pada habitat ini, sehingga berdampak pada ketahanan pangan manusia. Di daratan, spesies yang tidak mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan suhu, seperti beberapa jenis amfibi dan mamalia, menghadapi risiko kepunahan.

Perubahan curah hujan juga berkontribusi pada penurunan keanekaragaman hayati. Beberapa daerah mengalami kekeringan yang parah, sedangkan yang lain terkena banjir. Kekeringan dapat menyebabkan hilangnya vegetasi, mengganggu rantai makanan, dan memperparah kondisi habitat bagi spesies-spesies tertentu, sementara banjir dapat menghancurkan tempat tinggal dan sumber makanan yang dibutuhkan oleh berbagai organisme. Misalnya, tanaman yang membutuhkan kelembapan tertentu dapat mati ketika kondisi menjadi terlalu kering, menghalangi pertumbuhan spesies lain yang bergantung pada mereka.

Perubahan iklim juga meningkatkan risiko munculnya penyakit baru yang dapat mempengaruhi hewan dan tumbuhan. Spesies yang dulunya memiliki ketahanan terhadap patogen tertentu kini berisiko karena kondisi iklim yang berubah. Misalnya, meningkatnya suhu seringkali memperluas jangkauan vektor penyakit seperti nyamuk, yang dapat menularkan penyakit ke spesies yang sebelumnya tidak terpapar.

Fragmentasi habitat juga meningkat akibat kebutuhan untuk lahan pertanian dan pembangunan infrastruktur. Banyak spesies tidak memiliki kemampuan untuk bermigrasi ke lokasi baru, sehingga mengakibatkan penurunan populasi. Keterasingan ini membuat populasi rentan terhadap perubahan genetik yang merugikan, serta mempersulit reproduksi dan kelestarian spesies.

Lautan, waduk utama keanekaragaman hayati, juga terpengaruh. Selain pemanasan, pengasaman laut akibat penyerapan CO2 membawa dampak negatif bagi organisme. Terumbu karang, kerang, dan organisme laut lainnya mengalami kesulitan dalam membangun cangkang dan kerangka akibat air yang lebih asam. Hilangnya habitat ini berpotensi merusak ekosistem akuatik secara keseluruhan.

Kepunahan spesies bukan hanya masalah ekologis; dampaknya meluas ke berbagai sektor. Kegiatan ekonomi yang bergantung pada keanekaragaman hayati, seperti pariwisata dan perikanan, terancam sebagaimana spesies langka semakin sulit ditemukan. Ketika spesies hilang, kita kehilangan potensi obat-obatan yang belum ditemukan, serta komponen penting dalam sistem pangan yang berkelanjutan.

Upaya konservasi menjadi krusial untuk melindungi keanekaragaman hayati dalam konteks perubahan iklim. Kebijakan yang mendukung perlindungan habitat dan pengurangan emisi gas rumah kaca harus diperkuat. Kesadaran masyarakat dan pendidikan lingkungan juga memainkan peran penting dalam melayani sebagai langkah awal untuk menangani tantangan ini, serta memastikan bahwa generasi mendatang mewarisi ekosistem yang seimbang dan sehat.